Laman

Selasa, 19 Oktober 2010

Masa Depan Pertanian di Era Perubahan Iklim

ANALISIS EKONOMI
Kompas Senin, 18 Oktober 2010 | 03:04 WIB
BUSTANUL ARIFIN

Setelah Indonesia mengalami musim kemarau basah seperti saat ini, masyarakat umum semakin yakin bahwa perubahan iklim adalah fakta, bukan mitos.
Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan beberapa lembaga lain, seperti International Research Institute for Climate and Society (IRI), Columbia University (Amerika Serikat), menunjukkan, peluang terjadinya iklim basah (La Nina) masih sangat tinggi, sampai Februari-Maret-April 2011 (82 persen), bahkan sampai Maret-April-Mei 2011 (62 persen).

Masih segar dalam ingatan masyarakat, tahun 2009, Indonesia mengalami iklim kering (El Nino) walau tidak seekstrem seperti tahun 1997, 2002, dan 2007.
Pertemuan suhu muka laut yang sangat dingin di Samudra Pasifik (Daerah Nino 3.4) dan suhu perairan Indonesia yang hangat diperkirakan akan menimbulkan curah hujan dengan intensitas tinggi di Indonesia, bahkan sampai musim panen raya 2011.
Perubahan iklim yang dimaksud adalah perubahan setiap parameter iklim, seperti perubahan cuaca ekstrem, curah hujan, arah angin, dan sebagainya. Perubahan curah hujan yang sangat anomali seperti saat ini akan mengganggu aktivitas pertanian, terutama padi dan palawija.
Genangan air berlebihan meningkatkan peluang rawan banjir di persawahan menjadi 3 persen dan peluang puso (biji hampa) sampai 14 persen. Sementara, musim kering ekstrem akan meningkatkan peluang kekeringan di persawahan menjadi 8 persen, dan peluang puso sampai 2 persen. Secara keseluruhan, perubahan iklim ekstrem berpeluang menurunkan produksi pangan sampai 10 persen (Irsal Las dan kawan-kawan, 2009) jika negara tidak melakukan apa-apa.
Estimasi di atas belum mempertimbangkan ancaman lain karena perubahan iklim ekstrem juga akan memunculkan wabah hama dan penyakit tanaman.
Pemanasan global karena meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di udara adalah salah satu bentuk dari perubahan iklim karena terganggunya aktivitas tanaman dan pepohonan untuk menambat karbon. Dalam konteks makro, sektor pertanian seharusnya mampu menjadi solusi adaptasi, bukan hanya dianggap penyebab perubahan iklim.
Sistem wanatani (agroforestry) memungkinkan penambatan gas karbon di udara karena pola tumpang sari tanaman pangan dan pepohonan atau buah-buahan dapat meredam perubahan iklim, mengurangi laju erosi atau degradasi lahan, sekaligus mampu memberikan tambahan pendapatan petani.
Target produksi pangan
Pada awal Juli 2010, Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan angka ramalan (aram 2) produksi beras tahun 2010 menjadi 65,15 juta ton gabah kering giling, naik 1,17 persen, atau cukup jauh dari target peningkatan 3,22 persen yang dicanangkan pemerintah pada periode 2010-2014.
Kinerja pertumbuhan produksi beras tersebut menurun dibandingkan angka 6,75 persen pada 2009, dan 3,74 persen pada 2004, yakni masa pemilihan umum. Menariknya, sejak Agustus 2010 para pejabat sibuk memberikan alasan tentang pelambatan laju peningkatan produksi dan gangguan suplai beras, yang telah berkontribusi pada peningkatan harga pangan selama Ramadhan.
Alasan fenomena perubahan iklim ekstrem seakan memperoleh pembenaran politis bahwa musim (baca: Tuhan) tidak sedang bersahabat dengan pertanian Indonesia. Saat ini, BPS menghitung ulang angka ramalan produksi beras dan pangan lain yang akan diumumkan awal November 2010.
Sesuatu yang harus diperbaiki pada metode estimasi produksi beras adalah faktor indeks pertanaman (IP) yang perlu lebih realistis, tidak hanya berdasarkan pada aspek curah hujan dan penggunaan faktor produksi atau aspek budidaya, tetapi pada peluang terjadinya penurunan produksi atau gagal panen karena beberapa faktor baru yang belum dipertimbangkan sebelumnya.
Taruhlah pengukuran produktivitas padi yang diperoleh dari sampel ubinan (2,5 meter x 2,5 meter) oleh petugas statistik di lapangan mendekati akurat. Akurasi estimasi angka produksi pangan akan lebih banyak ditentukan oleh variabel luas panen, yang sangat bergantung pada faktor IP di atas, dan ketajaman mata petugas pertanian di lapangan memperkirakan luas tanam sawah petani. Idealnya, semua petugas pertanian di lapangan menguasai dan melengkapi dirinya dengan alat ukur sederhana seperti GPS (global positioning system) sehingga sekaligus mampu memantau alih fungsi lahan pertanian pangan menjadi kegunaan lain.
Pada era perubahan iklim ini, masa depan pertanian Indonesia tidak dapat mengandalkan perencanaan dan implementasi kebijakan sebagaimana biasa. Pembangunan pertanian ke depan memerlukan ketepatan kombinasi aplikasi sains dan inovasi teknologi yang berbasis presisi dan obyektivitas dengan kearifan lokal berdasar prinsip adaptabilitas, kemanfaatan, dan kemaslahatan.
Di tingkat kebun percobaan, para peneliti telah banyak menghasilkan inovasi varietas baru berbasis bioteknologi konvensional dan modern adaptif perubahan iklim.
Di tingkat kebijakan, kejelasan posisi Indonesia untuk lebih promotif terhadap penggunaan bioteknologi, terutama yang dihasilkan di dalam negeri, amat sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, dan sebagainya. Muara dari perubahan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat Indonesia.
Di tingkat lebih aplikatif, pemerintah telah mengembangkan kegiatan yang mengarah pada adaptasi perubahan iklim, seperti Sekolah Lapang Pengelola Pertanian Terpadu, Sekolah Lapang Perubahan Iklim, Sistem Tanam Benih Langsung, dan sebagainya. Namun, daya jangkau program tersebut terbatas, belum menyentuh seluruh 17,8 juta rumah tangga petani pangan di Indonesia.
Sistem penyuluhan cara lama seperti latihan dan kunjungan perlu disempurnakan dan dikombinasikan dengan teknik pendampingan dan pemberdayaan petani dengan peta jalan yang lebih sistematis.
Kini momentum yang tepat untuk memperbaiki kerja sama pemerintah (pusat dan daerah) dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di seluruh Indonesia, yang merupakan sumber informasi sains dan teknologi. Hubungan yang cenderung transaksional perlu diubah menjadi hubungan fungsional, untuk membantu petani, dan mempersiapkan kapasitas petani dan pelaku lain menghadapi era perubahan iklim. Dengan menjadi mitra, petani merasa terbantu, bukan sekadar obyek kajian dan pembinaan.

Bustanul Arifin Guru Besar Unila, Professorial Fellow di InterCAFE dan MB-IPB

Minggu, 05 September 2010

Pertanian, Sektor Besar yang Terlupakan

















Oleh Bustanul Arifin

Pada pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 16 Agustus lalu, ada bidang yang terlupakan. Itulah pertanian. Jangankan disinggung, pada pidato tersebut, kata pertanian sama sekali tidak disebutkan.
Presiden SBY memang menyebut kata "ketahanan pangan dua kali. Pertama, pada saat mengklaim bahwa "bangsa Indonesia memiliki ketahanan pangan yang semakin kuaf walau sama sekali tanpa dukungan data dan fakta. Kedua, pada saat menyebutkan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014 atau prioritas nasional, berupa reformasi birokrasi dan tata kelola, pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, dan ketahanan pangan.
Banyak analisis menafsirkan mengapa pertanian terlupakan pada suatu momen besar kenegaraan yang ditunggu rakyat banyak serta disaksikan jutaan pemirsa televisi di seluruh Tanah Air.
Pertama, secara substansial pertanian memang dianggap tidak relevan dalam pidato yang mengusung tiga tema besar yang amat-sangat luas dan strategis. Ketiga tema tersebut adalah (1) kesejahteraan, melalui pembangunan untuk semua; (2) demokrasi, melalui peningkatan kualitas demokrasi, pemerintahan dan pelayanan publik; dan (3) keadilan, melalui langkah strategis keadilan untuk semua.
Bagi stakeholders atau pemangku kepentingan bidang pertanian, menganggap bidang ini tidak relevan pada pembangunan kesejehteraan bangsa, adalah sesuatu yang tentu sangat menyakitkan.
Pertanian adalah sektor besar yang selama ini memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja 43% dan kontribusi 16% terhadap produk domestik bruto (PDB), dengan potensi pengganda {multiplier) pada sektor lain yang luar biasa.
Tidak harus mengutip teori-teori ekonomi pembangunan, masyarakat awam pasti sepakat bahwa negara agraris sebesar Indonesia tidak akan maju dan beranjak ke mana-mana jika kebijakan yang dirumuskan justru mengabaikan pembangunan pertanian. Walaupun sektor pertanian telah dibangun dengan susah payah, ternyata hasilnya masih belum membawa kesejahteraan bagi petani sebagai pelaku utamanya.
Apalagi jika diabaikan dan dilupakan. Terlalu besar risiko yang akan ditanggung bangsa Indonesia, jika konsep development for all yang diusung Kabinet Indonesia Bersatu Jilid-2 justru melupakan pertanian. Siapa pun perumus konsep pembangunan yang konon inklusif tersebut, ia atau mereka masih perlu banyak turun ke lapangan agar strategi yang ditawarkan kepada Presiden SBY lebih mendekati kenyataan.
Serempak dan Terintegrasi
Kedua, ketidakpercayaan terhadap sektor pertanian karena kompleksitas yang tinggi. Berbeda dengan sektor industri manufaktur dan jasa, sektor pertanian memang kompleks, karena demikian banyak pelaku yang terlibat, dengan efisiensi yang tidak terlalu tinggi.
Dalam bahasa ekonomi modern, pembinaan dan pemberdayaan sektor pertanian memerlukan biaya transaksi yang besar karena nyaris pada setiap tahapan kegiatan harus dilakukan pelaku atau lembaga yang berbeda. Para perumus kebijakan atau elite politik yang tidak sabar dan ingin melihat hasil instan biasanya melupakan pembinaan pertanian karena hasil kebijakan baru dinikmati sekian tahun kemudian.
Walaupun mereka paham secara teori, bahwa sektor pertanian menjadi pengganda pendapatan dan pengganda tenaga kerja, implementasi kebijakan untuk mewujudkan sasaran tersebut memang tidak mudah.
Namun, para pengambil kebijakan tentu tetap harus menyadari bahwa membangun pertanian itu memang perlu serentak dan komprehensif, tidak cukup hanya dengan sekali pukul satu kebijakan, sekian tujuan akan tercapai. Justru hal sebaliknyayang amat diperlukan. Sekian macam instrumen kebijakan harus dilaksanakan secara serempak dan terintegrasi, untuk mencapai satu tujuan, misalnya peningkatan kesejahteraan petani.
Implementasi kebijakan peningkatan produksi dan produktivitas mungkin cukup jelas dan mudah diukur dengan sekian macam intervensi yang harus dilakukan. Akan tetapi, tanpa diikuti stabilisasi harga di tingkat petani yang memadai, upaya peningkatan produksi tersebut belum tentu dapat memperbaiki kesejahteraan petani, jika para tengkulak lebih berkuasa atau jika tiba-tiba harga pertanian global anjlok.
Belum lagi jika ditambah dengan fakta terakhir tentang penguasaan lahan petani yang semakin menyusut Jumlah petani pangan yang hanya menguasai lahan 0,5 hektare atau kurang telah bertambah mencapai 9,34 juta rumah tangga petani (atau 53,5% dari total). Peningkatan produksi yang besar sekalipun masih sulit untuk mengangkat petani dari belenggu kemiskinan apabila persoalan penguasaan lahan tidak dapat dipecahkan.
Kompleksitas seperti ini akan selalu menjadi momok menakutkan bagi kaum elite picik yang hanyaberpikir ingin menikmati hasil kebijakan instan. Pada tingkat daerah, fenomena seperti ini justru lebih mudah dijumpai. Hampir seluruh daerah dan provinsi meletakkan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan pada RPJM daerah, namun di lapangan, alokasi anggaran, dan realisasinya berbicara lain.
Revitalisasi Pertanian
Ketiga, pertanian dianggap telah maju dan berhasil karena laporan yang menggiurkan. Laporan-laporan peningkatan produksi pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, dan perikanan akhir-akhir ini mungkin cukup memukau Presiden SBY. Apalagi, pada awal masa kepemimpinannya, Presiden SBY pernah mencanangkan strategi revitalisasi pertanian sebagai mantra ajaib peningkatan produksi dan pemihakan kebijakan kepada petani dan pertanian.
Banyak, pihak seakan terpukau dengan data fisik produksi secara makro tersebut, tanpa pernah berusaha memahami kesulitan riil petani di tingkat mikro. Ketika akhir-akhir ini terdapat lonjakan harga pangan yang liar, baik karena tren permintaan yang memang tinggi dan suplai yang cenderung menurun terutama karena prakiraan bulan basah La Ninayang masih sampai November 2010, pemerintah kemudian bereaksi secara panik. Operasi pasar murah direncanakan secara serempak di beberapa tempat, walaupun menurut laporan media, pasar murah itu sepi peminat.
Dengan kata lain, strategi revitalisasi pertanian yang dicanangkan pada periode pertama dulu masih jauh dari sempurna, sehingga tidak selayaknya sektor pertanian diabaikan. Dari sesuatu yang paling sederhana, seperti sistem produksi pangan yang disebutkan di atas, jelas fondasi pertanian Indonesia masih belum stabil, dikendalikan di sini, ternyata kedodoran di sana, dan sebagainya.
Belum lagi, jika menyebutkan istilah ketahanan pangan yang jauh lebih kompleks dan berdimensi luas, karena bukan hanya menyangkut urusan permintaan dan penawaran pangan, melainkan menyangkut kecukupan gizi dan protein penduduk Indonesia, daya saing bangsa di tingkat global dan sebagainya.
Demikian pula jika memperhitungkan sesuatu yang lebih rumit, seperti reforma agraria yang dicanangkan Presiden SBY pada periode pertama, pembangunan pertanian memang belum dapat dikatakan maju dan berhasil, juga belum mampu mewujudkan konsep justice for all sebagaimana diucapkan dalam Pidato Kenegaraan 16 Agustus 2010 ter-sebut.
Meski menghadapi berbagai kerumitan, sektor pertanian tetap tak bisa diabaikan, apalagi dilupakan. Pertanian tetap menjadi pengganda pendapatan dan pengganda tenaga kerja. Semoga saja, kekhilafan tidak menyebutkan sektor pertanian itu hanya masalah kemasan saja, bukan karena ketidakpedulian atau penga-cuhan yang pasti memiliki implikasi politik jauh lebih buruk.
Masih cukup banyak cara dan langkah kebijakan untuk memulihkan kepercayaan publik bahwa pemerintah betul-betul masih akan berpihak pada sektor pertanian. Salah satu contoh kecil yang dapat dilakukan ke depan dalam mencapai sasaran revitalisasi pertanian adalah bagaimana realisasi rencana mewujudkan 15 juta lahan pertanian pangan.
Apalagi kini Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Terlalu naif jika masih ada yang beralasan tidak mampu menegakkan dan melaksanakan UU 41/2009 tersebut hanya karena peraturan pemerintah (PP) yang lebih operasional belum ada.

Penulis adalah Guru Besar UNILA dan Professorial Fellow MB-IPB

Kamis, 12 Agustus 2010

Pelatihan TMDP untuk Sarjana Baru yang Akan Memasuki Dunia Kerja.

Trend Rekruitment saat ini telah  beralih dari Rekruiment Tradisional menjadi Talent Recruitment.

Talent Recruitment adalah :
  • Perekrutan yang didasari oleh bakat/potensi yang dimiliki setiap sarjana melihat dari aspek secara: personal, profesional dan bisnis.
  • Potensi dapat diketahui melalui analisa psikologis (Psychological Mapping), sehingga setiap sarjana akan terlihat apakah mau, bisa dan mampu dalam bekerja.
 Bagaimana
Mensiasati  Proses
Talent  RecruiTment” ?
Talent Management development program (TMDP)
Mempersiapkan sarjana memasuki dunia kerja dengan kompetensi managerial

 Seminar TMDP di IPB Bogor



KONSEP  TALENT MANAGEMENT DEVELOPMENT PROGRAM (TMDP)

TMDP adalah program Pelatihan Soft Skills yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi manajerial yang diberikan untuk mahasiswa semester akhir atau S1 yang belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai latar belakang keilmuannya.

Akhir program TMDP, semua peserta akan melalui proses kelulusan yang dinilai mulai dari: kesanggupan (Committment) belajar secara pro-aktif di dalam maupun di luar kelas; kemampuan (Competency) memperjuangkan studi kasus; penilaian kemampuan mengelola kondisi pekerjaan (Managing Condition) yang dihadapi (disiplin sebagai bawahan, komunikasi, kepemimpinan, pembuatan keputusan dan membangun tim kerja). Ini semua menjadi bahan utama kompetensi manajerial (Soft Competency) untuk dapat memasuki dunia kerja.


TUJUAN  TMDP
Kursus TMDP mempunyai beberapa tujuan yaitu:
1.   Membangun kesanggupan (Committment) pribadi peserta agar mampu mengelola diri sendiri, memiliki disiplin tinggi sebagai peserta Kursus maupun sebagai calon karyawan pada bidang pekerjaan yang akan dimasuki.

2.   Mendampingi pengembangan kemampuan (Competency) profesional peserta dalam hal kompetensi manajerial (Soft Competency) terdiri dari :    
  • Kemampuan berkomunikasi secara fungsional.
  • Kepemimpinan manajemen perubahan.
  • Kemampuan membuat keputusan bisnis
  • Kemampuan bekerja di dalam dan membangun team.
  • Kemampuan dunia wiraswasta.

3.   Mendampingi peserta agar mampu mengendalikan berbagai kondisi (Managing Condition) mulai tahap seleksi pekerjaan sampai memasuki dunia kerja.

4.   Mendampingi peserta agar mampu menjadi anggota baru pada kelompok kerja dengan berkontribusi secara positif, optimal, berdasarkan logika: Bersih, Transparan dan Profesional (BTP).

 Pelatihan TMDP di UNAIR Surabaya

PROSES PEMBELAJARAN TMDP
Proses pembelajaran TMDP akan menghasilkan calon pekerja dengan kriteria: mempunyai kemampuan manajerial yang superior, pengertian yang mendalam mengenai bisnis dan industri yang akan dimasuki, mempunyai antusiasme dan mampu berhadapan dengan perubahan lingkungan yang serba cepat.

Proses pembelajaran ini dilakukan dengan metode belajar active learning melalui kombinasi antara ceramah, simulasi, studi kasus, presentasi dan diskusi interaktif yang semuanya disampaikan secara Fun, sehingga peserta tidak akan pernah jenuh mengikutinya.

METODE PELATIHAN
  • Fun
  • Practical Learning
  • Studi Kasus, Review Film, Observasi Lapangan
  • Dames : Bowling, Golf, Gocart, Dart, dsb.
 
EVALUASI TMDP
Evaluasi TMDP dilakukan mulai dari analisa psikologi dan kegiatan Kursus dengan  prosentase ; 1). Nilai dari peserta TMDP = 30%, 2). Nilai dari trainer TMDP = 70%.
Penilaian yang diberikan adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan kegiatan Kursus peserta TMDP. Penilaian dapat diperoleh dari kegiatan selama mengikuti Kursus TMDP dari trainer, tugas, ujian juga dari peserta lainnya.

PAPER AKHIR / INDIVIDUAL PAPER TMDP
Setiap peserta sebelum menyelesaikan Kursus TMDP diwajibkan menyusun paper individu sesuai dengan kekhasan atau spesialisasi bidang yang diminati. Studi mandiri ini akan didampingi oleh trainer sebagai pembimbing paper dengan maksud :

1.  Trainer sebagai pendamping membantu setiap peserta TMDP merencanakan paper studi mandiri pada awal pertemuan.
2.   Membantu setiap peserta TMDP mengembangkan potensi dirinya sehingga memperoleh hasil yang optimal dan dapat menyelesaikan studi mandiri sesuai waktu yang telah ditentukan.


MATERI  TMDP
 Fokus Kursus TMDP akan bertumpu pada :
1.   Manajemen Diri (Self Management). Meliputi; Self Awareness dan Self Mastery.
2.  Kompetensi Managerial (Soft Competency). Meliputi; Business Communication, Business Presentation, Leadership, Problem Solving & Decision Making, and Team Working.
3.   Pengembangan Proyek Bisnis (Business Project Management).
4.   Study Mandiri (individual paper).

 
PELAKSANAAN TMDP
TMDP ini dilakukan selama 1,5 bulan intensif (10 kali pertemuan). Program TMDP dapat dilakukan dengan kuota maksimum 30 orang per kelas. Efektivitas waktu pertemuan adalah 7 jam per hari.

Peserta TMDP juga mendapatkan layanan tambahan yaitu layanan konseling gratis sepanjang masa bagi peserta sebagai proses berkesinambungan demi tercapainya target pribadi maupun target pekerjaan.

TESTIMONI




















Berminat  ??

Hubungi Kami,
SYAMSU DARIS
HP. 08156265099
email : syamsudaris@rocketmail.com



Kamis, 08 Juli 2010

PROFIL SOSEK INC


Jl. KH. Ahmad Sobana (d/h. Bangbarung) No. 17
Bantarjati - Bogor
Telp/Fax :  (0251) 8357839


Visi  :
Menjadi Perusahaan Terkemuka dengan Kompentensi Utama Pengembangan Agribisnis dan  Sumberdaya Manusia untuk Mendukung Pembangunan Pertanian, Pembangunan Wilayah dan Pengembangan Sumberdaya Manusia  secara Berkelanjutan dan Terintegrasi.
Misi  :
  1. Mengoptimalkan kompetensi dan akses yang dimiliki oleh   anggota dan keluarganya
  2. Menciptakan nilai tambah
  3. Berpartisipasi dalam penelitian dan pengembangan


Lingkup Kegiatan :
  • Membangun unit-unit bisnis, koperasi dan yayasan
  • Mengidentifikasi kompetensi dan akses
  • Melakukan pengkajian dan penelitian di bidang pertanian mendukung pertanian yang berkelanjutan.
  • Memfasilitasi perubahan kebijakan baik nasional maupun daerah
  • Mengembangkan pusat dokumentasi hasil- hasil studi
Guiding Principles  :
  • Menyeimbangkan hubungan sosial bisnis
  • Fokus pada konsumen
  • Jujur, beretika dan adil untuk semua
  • Bertanggung jawab dan tanggap terhadap masyarakat
  • Efisien dan efektif
  • Mengembangkan kepemimpinan
  • Menghargai satu sama lain
  • Inovatif  dan berorientasi pada aksi




Core Business  : 
  • Penyediaan jasa konsultasi terutama dalam bidang Manajemen Agribisnis, Manajemen Pendidikan dan Manajemen jenis usaha lainnya, Good Agriculture Practices, Value Chains, Pengembangan Wilayah, Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL), Studi Kelayakan, Studi atau kajian terhadap suatu Kebijakan.
  • Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) dengan penyediaan berbagai Program Pelatihan antara lain : Enterpreunership & Soft Skill Training. 
  • Up-Stream (Bisnis Hulu), yang mencakup pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan: Benih; Pupuk; Pestisida dan Alat serta Mesin Pertanian.
  • Main Stream (Bisnis utama), yang berkaitan dengan pendampingan petani sampai penggabungan petani kedalam suatu asosiasi agribisnis yang berasaskan hubungan sosial-bisnis.
  • Down Stream (Bisnis Hilir), yang berkaitan dengan  penggunaan jasa dan komoditi dari main stream oleh agro-industri; perbankan ataupun lembaga pemerintah dan swasta lainnya. Jasa yang diberikan dapat berbentuk  pelatihan, konsultasi ataupun pendampingan

Profil Pengurus
 
 Ir. I Made Donny Waspada
(Pendiri,  Komisaris Utama)
Setelah  menyelesaikan S1 dengan Bidang Keahlian Agribisnis IPB pada tahun 1985, langsung terjun berwiraswasta membuka Kebun Melon di daerah Bogor dan sekitarnya.  Hingga saat ini menjabat sebagai Dirut PT. Moena Putra Nusantara, produsen dan supplier Buah-buahan terkemuka di Jakarta, serta Owner Moena Fresh yang  telah memiliki 13 Outlet di Bali.  Berkat ketekunan dan konsistensinya dalam Agribisnis Buah-buahan, beliau juga menjadi Dosen Tamu di beberapa Perguruan Tinggi di Jawa, Bali dan Sumatera antara lain  IPB, Unila,  UI, dan Udayana. Membangun Pertanian dan Masyarakat kecil terutama di Pedesaan merupakan komitmen tinggi sejak  masih kuliah.  Selain karena ketekunannya, kemajuan Bisnis Buah-Buahannya dicapai dengan menjaga hubungan baik dengan Mitra Bisnis dan  Karyawannya, disamping sikap yang selalu rendah hati kepada siapapun juga.  Organisasi    yang pernah diikuti antara lain HMI Cabang Bogor, HIPMI  DKI Jakarta dan Pengurus IMBI Pusat.  Saat ini aktif sebagai Ketua Persatuan Bowling Teladan DKI Jakarta.



Ir. Ismet Ali., MM., ATP.        
( Komisaris, Dewan Pakar- Soft Skill)
Setelah menyelesaikan studi sebagai lulusan  S2 terbaik pada jurusan HR Management di STIE-MITRA,    merintis karir di PT. BAT Indonesia mulai dari tingkat Manager pada tahun 1998, dan menjadi salah satu Direktur  PT BAT pada tahun 2001 – 2003.  Disamping sebagai Konsultan Management  pada Industri Tembakau PT. 3C Virtual Solo, saat ini dalam tahap penyelesaian Program S3 pada Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta.  Dengan pengalaman  mengikuti berbagai pelatihan Management di dalam dan luar negeri, Pakar dalam bidang Soft Skill Training ini juga ahli dalam Managerial & Technical Skill  terutama pada : Agronomic Road Map & CSR, Agribusiness Partnership, Project Management, Supply Chain Management, Budgeting, Analysis & Control, Blending Development & Customer Analysis.



Ir. Nunny H. Budialenggana  
(Komisaris)
Kapasitas dan kemampuan ‘entrepreuneurship’ dalam Penyusunan Strategi, Perencanaan, dan problem solving  untuk mencapai tujuan efisiensi usaha.    Semua ini dimiliki berkat beberapa pelatihan management, disamping pengalaman berwiraswasta sebagai Direktur pada Gaharu Poultry Farm (1989-2007), serta Manager Promosi dan Pengembangan Usaha pada Perusahaan Agribisnis PT. Kaltimex Jaya (1987-1989).  Selain menulis dan beraktivitas sosial, dalam satu dekade terakhir juga sangat fokus dalam bidang pendidikan dan pengembangan sistim SDM terutama dalam pengembangan 'performance appraisal'.  Sejak tahun 1999 hingga sekarang aktif dalam kepengurusan Yayasan Masjid Al-Ikhlas Jakarta, sebagai Ketua Bidang Pendidikan yang mengelola SEKOLAH ISLAM AL IKHLAS , CILANDAK dengan 1600 siswa; dan juga pernah aktif di perusahaan konsultan pendidikan PT.Cipta Mandiri Putri (2004-2007). Kegiatan utama saat ini di bidang kesehatan, yaitu pengembangan Hypnolangsing.


Ir. Jacub E.T. Ponto
(Pendiri, Komisaris)
Pernah melanjutkan studi di European Master di EHSAL University,  Brussells, Belgium (2002-2004), namun karena satu hal, studi tidak diselesaikan.  Menjadi PNS bukanlah  suatu Profesi yang diminati walaupun sempat dijalani selama 3 tahun (1986-1989) di Departemen Perdagangan. Kemudian beralih sebagai professional di bidang perbankan dengan pengalaman  managerial di berbagai level antara lain :  Marketing Officer Bank Summa (1989-1992), Credit Head Div Bank Rajawali (1993-1995),  Branch Manager Bank Rajawali, Jakarta (1995-1997), Deputy RH Jabodetabek Bank Pos (1998-2000), dan Team Merger of 8 Banks, Danamon-BPPN(2000-2001). Di bidang usaha, selain sebagai distributor pupuk organic SN sejak tahun 2006,  saat ini juga sedang mengembangkan tanaman kedele Jepang Edamame di daerah Ciawi Bogor




Ir. Asep Herman
(Pendiri, Direktur  Utama)
Selain sebagai Direktur Utama di Sosek Inc, juga  sebagai Direktur  pada dua perusahaan multinasional, yaitu PT. Varia Megah Khatulistiwa, eksportir Meubel, dan PT. Jaya Allumina Kreasi.  Setelah menyelesaikan Program Studi S1 Agribisnis IPB pada tahun 1985, langsung berwiraswasta budidaya udang galah.  Tahun 1987 bergabung dengan PT. Dharma Niaga hingga tahun 1993 pada Divisi Ekspor dan Perdagangan antar pulau komoditi Agribisnis. Selama di perusahaan ini,   pengalaman untuk sourcing berbagai komoditi Pertanian di berbagai daerah membuatnya  semakin senang dengan dunia pertanian  dan pedesaan.  



Ir. Syamsu Daris
(Pendiri, Direktur  Operasi)
 Berlatar belakang sebagai anak petani, setelah menyelesaikan studi S1, langsung membuka perkebunan Melon sekaligus sebagai salah satu pendiri PT. Moena Farm (sekarang Moena Putra Nusantara), yang hingga  tahun 1989 menjabat sebagai Manager Produksi.  Tahun 1990 -1992 sebagai Kepala Cabang Bandung PT. Petrochemindo Purnama, kemudian sebagai Manager operasi pada PT Sinar Kencana (1992-1994).  Tahun 1995-2000 berwiraswasta  dalam berbagai jenis usaha kecil, kemudian menjadi Kepala Cabang Sulsel PT. KEBUN (2001-2003).  Sejak tahun 2005 hingga sekarang sebagai Direktur perusahaan Konsultan, PT. Dellasonta Moulding International.  Senang berorganisasi, dan telah memimpin berbagai organisasi social, kemahasiswaan dan kepemudaan, serta organisasi profesi sejak tahun 1982 – 2005.




Ir. Dede Furkon
(Direktur  Keuangan)
Berkarir di Bank BUKOPIN sejak  tahun 1987  dengan berbagai posisi/jabatan yang telah diembannya, kini  menjabat sebagai Assistant Vice President.  Program S1 diselesaikan  di IPB jurusan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (1985), sedang pendidikan dan pelatihan  Perbankan non gelar, diperoleh baik di dalam maupun luar negeri.     Dengan Posisinya sebagai Direktur Keuangan,   Bankir ini bertekad  untuk menjadikan  Sosek Inc sebagai salah satu Perusahaan  terkemuka yang professional dan akuntable.




Prof. Dr. Bustanul Arifin  
(Pendiri, Ketua Dewan Pakar)

Gelar Doktor Ekonomi Sumberdaya Alam diperoleh dari  Univ. of Wisconsin – Madison (1995).  Ahli Pangan ini  adalah Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian UNILA , juga  sebagai Dosen Pascasarjana UI dan IPB, Senior Economist INDEF, Senior Fellow InterCAFE-IPB, dan Penasehat Timnas Perunding WTO. Karya Ilmiah yang dihasilkan antara lain :  35 Judul Buku, 65 artikel jurnal, 48 makalah di forum internasioal, lebih dari 200 makalah di forum nasional, serta 300 artikel di media massa.  Pengabdiannya saat ini juga pada : Badan Eksekutif Asian AgEcon, Ketua Perhepi, Pengurus Pusat ISEI, Pakar di Dewan Ketahanan Nasional, serta Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan.



Ir. Mohamad bayu
(Pendiri, Business Associate)
Setelah berhenti sebagai Dosen di Universitas Nusa Cendana Kupang NTT (1988),  dengan keahliannya dalam bidang Management dan Keuangan, beralih menjadi Profesional di  berbagai  Perusahaan Agribisnis Multi Nasional , antara lain : sebagai Senior Manager PT. Moena Putra Nusantara (1988-1996), Trading Manager PT. Intidaya Agrolestari (1996-1998), Store & Merchandiser Manager PT. Sarinah Bali (1999-2000), Asisten Direktur Trading PT. KEBUN (2001-2003), dan sejak  th 2003 hingga saat ini adalah Marketing Manager untuk Jatim dan Jateng pada  PT. OSF Aroma Indonesia. Komitmennya terhadap kemajuan Petani dan Pertanian Indonesia  sangat tinggi sehingga sangat bersemangat untuk mendirikan Sosek Inc.







 Profil
Dewan Pakar
Sosek Inc
Ir. Muktasam, M.Agr.Sc., Phd.
(Dewan Pakar – Bidang Pengembangan Pertanian dan Masyarakat Pedesaan)
Setelah menyelesaikan S1 di IPB pada tahun 1985 untuk bidang Penyuluhan Pertanian, jenjang pendidikan S2 dan S3 masing-masing dirampungkan di Melbourne University (1993: Agricultural Extension) dan The University of Quensland (2000: Natural and Rural System Management), keduanya di Australia.
Sebagai dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), kiprahnya di bidang Penelitian dan Pengembangan Masyarakat tidak diragukan lagi. Berbagai kegiatan penelitian kerjasama internasional telah dilakukannya dalam delapan tahun terakhir, antara lain dengan the Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR), Multistakeholder – Forestry Program (MFP-DFID), The Nippon Foundation, dan Lembaga Internasional lainnya. Pernah melakukan penelitian di Malaysia dan Thailand untuk “Best Practices in Rural Development”. Selain melakukan penelitian dalam bidang kelembagaan, kebijakan, dan pengembangan masyarakat serta pedesaan, juga menjadi fasilitator untuk bidang yang sama pada sektor kehutanan, pertanian, peternakan, dan perancangan peraturan dan perundang-undangan (Legislative Drafting).
Berpengalaman sebagai pemakalah pada konferensi/seminar internasional untuk bidangnya. Dalam tiga tahun terakhir mempresentasikan makalah di Malaysia, Thailand, Jepang, dan Inggris untuk kajian sekitar Rural Development, Agricultural Extension, Studies of the Common (Pengelolaan Sumberdaya Alam – Hutan).

Dr. Ir. Dwi Haryono, MS.
(Dewan Pakar –   Bidang Ekonomi Pertanian/Agribisnis)
Setelah menyelesaikan Program S1 Agribisnis IPB (1985), melanjutkan Program S2 pada Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian IPB (1991). Saat ini sedang menjalani tahap akhir penyelesaian Program S3 IPB dengan Bidang Keahlian yang sama. Pria ini pernah menjabat sebagai Kepala Laboratorium Analisis Agribisnis dan Ketua Program Studi Agribisnis di Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Aktif dalam berbagai program aksi pemberdayaan masyarakat, antara lain pemberdayaan masyarakat tani menuju ketahanan pangan nasional, pengembangan ekonomi lokal, pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis lembaga adat, dsb. Banyak melakukan Penelitian dan Publikasi Ilmiah yang terkait  dengan masalah Ekonomi Pertanian/Agribisnis.  



Dr. Ir. Ery Supriyadi, MT
(Dewan Pakar – untuk Bidang Manajemen Bisnis, Planologi)
Berkarir  sebagai  Staf Pengajar di IKOPIN  sejak tahun 1989, kini menjabat  sebagai Ketua Jurusan Manajemen Komunikasi Bisnis dan Penyuluhan, Fakultas Manajemen SDM. Terinspirasi oleh Pegabdian memberikan Pelatihan Manajemen Bisnis kepada sejumlah Usaha Kecil dan Koperasi di berbagai daerah, ikut membidani berdirinya Pusat Inkubator Bisnis Ikopin.   Dengan komposisi Program S1 Agribisnis IPB, S2 dan S3 Planologi ITB, beberapa tulisan dari Pria rendah hati ini menekankan pada pentingnya Pembangunan Wilayah dan Pengembangan Agribisnis dalam satu konsep yang terintegrasi dan berkelanjutan.  Lebih dari 30 judul Publikasi Ilmiah telah dilakukannya.  Aktivitas organisasi antara lain di ARDIN, PERHEPI, HA-IPB Jawa Barat.  Forum Jatinangor adalah lembaga yang didirikannya dalam rangka memberikan input bagi pengembangan daerah ini menjadi Kawasan Pendidikan Jatinangor


Ir. Margaharta Iskandar, Msi.
(Dewan Pakar – Bidang Perikanan dan Kelautan)
Pria kelahiran Bandung ini menyelesaikan Program studi S2-nya   di United Graduate School, Kagoshima University,   Japan (1996-1998) dengan Field of Study: Marine Policy. Sedangkan S3 saat ini  dalam  tahap penyelesaian akhir  di Universitas yang sama  dengan Field of Study: Marine Production and Environmental Studies.  Aktivitas  sehari-hari saat ini adalah di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan ,  LPPM-IPB Bogor.  Sebagian besar penelitian dan tulisan-tulisan ilmiah  yang telah dipublikasikannya  lebih banyak mengenai  Perikanan dan Kelautan.


Dr. Ir. Tatang Mulyana, MM.
(Dewan Pakar – Pengembangan Wilayah dan SDM)

Sejak lulus  dari IPB pada tahun  1985, hingga saat ini aktif melaksanakan beberapa Proyek pengembangan wilayah di berbagai daerah di Indonesia.   Doktor yang pendiam ini juga  banyak  menekuni berbagai analisa di bidang pengembangan Komoditi Agribisnis dan Manajemen SDM.






Hj. Tuti Karyani, Ir. MSP.
 (Dewan Pakar – Agribisnis dan Pengembangan Wilayah)

Setelah menyelesaikan Program S1 Agribisnis IPB (1985), melanjutkan Program Master bidang Planologi ITB dan selesai tahun 1992.  Dua bidang keahlian  yang dimiliki itu membuat  Kandidat Doktor dan Staf Pengajar  Faperta UNPAD ini  banyak melakukan  penelitian di berbagai daerah  dan Publikasi Ilmiah yang jumlahnya mencapai 40 judul dengan   pokok bahasan Pengembangan Wilayah, Kawasan Agribisnis, Efisiensi Produksi dan Pemasaran, serta pengembangan Agrowisata.



Prof. Dr. Rudi Febriamansyah
(Dewan Pakar – bidang Pengembangan Masyarakat serta Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Linkungan)
Gelar Doktor Manajemen Sumberdaya Alam dan Lingkungan diperoleh dari University of Melbourne, Australia (2003).  Guru Besar dalam bidang ilmu Pembangunan Pedesaan di Universitas Andalas, Padang (UNAND) diperoleh pada akhir tahun 2007.  Selain tetap sebagai dosen di jurusan Sosial Ekonomi Pertanian UNAND, aktif sebagai Koordinator Peneliti di Pusat Studi Irigasi, Sumberdaya Air, Lahan dan Pembangunan, bekerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah daerah, pusat maupun lembaga donor asing, seperti Ford Foundation, Bank Dunia, IWMI, ICRAF, USAID. Sekarang ini sedang mengembangkan kajian Gender and Natural Resources Management bekerja sama dengan University of Brighton, UK., Institute of Social Studies, Netherland., the Asian Institute of Technology and the University of Chulalongkorn Thailand., dengan dukungan dana dari EU-Asia Link Program.


Ir. Nanik Risnawati, Msi
(Dewan Pakar- Agribisnis, Ekonomi Produksi  dan Koperasi)
Lulus S-1 dari IPB tahun 1985 pada jurusan agribisnis, dan S-2 pada bidang Ekonomi Pertanian UNPAD tahun 1989.  Saat ini bekerja sebagai Ketua Program D-3 Manajemen Bisnis pada Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN).  Selama ini ikut aktif mengembangkan koperasi dan UKM di Jabar dan beberapa wilayah lain di Indonesia dengan melibatkan diri sebagai pelatih pada berbagai kegiatan pelatihan bagi Koperasi dan UKM.  Disamping itu juga melakukan berbagai kajian tentang perkoperasian yang diarahkan untuk mendorong pengembangan koperasi dan UKM di Jawa Barat.


Hartoyo, Ph.D.  
(Dewan Pakar –   Ekonomi Keluarga, Manajemen Keuangan )
Lahir di Indramayu pada tanggal 14 Juli 1963, menempuh pendidikan S1 di Program Studi Agribisnis IPB (1981-1985), S2 dan S3 diselesaikan di Virginia Tech, Blacksburg, USA pada tahun 1991 dan 1998. Disamping itu juga  pernah mengikuti beberapa pendidikan Non Gelar di dalam dan luar negeri.  Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB periode 2005-2009.   Masalah gizi dan ekonomi  keluarga, serta nilai anak menjadi konsentrasi utamanya, yang ditunjukkan dengan berbagai penelitian dan karya ilmiah yang dipublikasikannya.  Saat ini juga  aktif di beberapa organisasi, antara lain American Association of Family and Consumer Sciences (AAFCS),  Indonesian Society of Food and Nutrition (PERGIZI-PANGAN),  Indonesian Nutrition Association (PERSAGI),  National Home Economic Honor Society (Kappa Omicron Nu)



Ir. Gelar Satya Budhi, MSc.
(Dewan Pakar – Kelembagaan dan Pembangunan Masyarakat)
Perpaduan antara pengalaman dalam penelitian yang berkaitan kajian fakta-fakta yang terjadi, juga sekaligus memiliki pengalaman dalam melakukan penerapannya di lapangan, khususnya dalam pembangunan masyarakat dan kelembagaan.  Selain penelitian dan pemberdayaan masyarakat, kepakarannya diperkuat dengan kemampuannya menulis dalam berbagai jurnal maupun artikel dalam buku, banyak diantaranya ditulis dalam bahasa Inggris.  Demikian juga, tulisannya yang lebih bersifat populer cukup banyak dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Bisnis Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pikiran Rakyat, dll.  Kemampuannya dalam bidang penelitian dan pemberdayaan telah banyak dimanfaatkan oleh berbagai lembaga seperti BAPPENAS, LP3ES,  Institut Pertanian Bogor, CIFOR, ICRAF, Bank Indonesia, Hak Pengusahaan Hutan, dan berbagai lembagai konsultan.  Kepakarannya
diperoleh juga dari pengalaman sebagai anggota staf pembantu Menteri Pertanian, yang bertugas
menyusun makalah, naskah pidato, dan pointer untuk wawancara.


Prof. Dr. Sudrajati Ratnaningtyas, Ir., MP.
(Dewan Pakar – untuk Bidang Ekonomi dan Manajemen)
Ibu dari dua orang anak yang berasal dari Kebumen ini menyelesaikan Program S3 di UNPAD jurusan Manajemen (2007).  Saat ini tidak saja sebagai Pembantu Dekan II dan dosen di UNWIM, tapi juga memberikan mata kuliah yang menjadi Bidang Keahlannya, yaitu Ilmu ekonomi dan Manajemen di UIK Bogor dan STIE Kusuma Negara, Jakarta.  Profesi sebagai Guru memang menjadi cita-cita sejak kecil. Pada tahun 1999 terpilih sebagai Dosen Teladan Kopertis Wilayah IV Jawa Barat, dan memperoleh Penghargaan dari Presiden RI pada tahun 2000. Pengalaman membimbing Skripsi sebanyak 300 Mahasiswa, dan Tesis 29 Mahasiswa. Di tengah kesibukan mengajar dan membimbing mahasiswa, aktvitas Meneliti dan Menulis juga  tidak dikesampingkan, dan hasilnya telah dipublikasikan.




Melani Abdulkadir Sunito, Ir, Msc.
(Dewan Pakar – Pengembangan Masyarakat, Gender)
Staf pengajar pada Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) -  IPB, serta menjadi pengampu matakuliah Kependudukan, Perubahan Sosial, Gender&Pembangunan, dan Teori Feminis&Gerakan Perempuan bagi mahasiswa S1 dan S2.  Saat ini, ia juga kandidat PhD di bidang Geografi Budaya pada University of Gottingen di Jerman, dengan penelitian mengenai migrasi, perubahan agraria dan politik etnis di Sulawesi Tengah. Ibu tiga anak ini adalah fellow dan co-founder Samdhana Institute – perkumpulan regional Asia Tenggara yang bergerak di bidang pengelolaan sumberdaya alam berbasis komunitas ; anggota konsorsium Bogor-100 – suatu kelompok yang konsen pada perkembangan kota Bogor dan Kebun Raya Bogor seratus tahun ke depan ; dan juga bergabung dalam jejaring aktivis rehabilitasi ekosistem dan pertanian berkelanjutan. 




Dr. Ir. Rohayati Suprihatini, MM.
(Dewan Pakar – Sistem Agribisnis Tanaman Perkebunan)
Jenjang studi mulai dari S1, S2 sampai S3  semua diselesaikan  tepat waktu di IPB dengan predikat Cum Laude. Profesi sebagai Peneliti merupakan bidang yang ditekuni secara konsisten  sejak tahun 1986 di Balai Penelitian Perkebunan Bogor, hingga sekarang di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung.  Puluhan Judul Penelitian Tanaman Perkebunan telah dilakukan khususnya untuk tanaman Teh, Kopi, Kakao, Lada,  Kelapa Sawit, Mangga dan Tebu mengenai system Usahatani, Pengolahan dan Pemasaran, termasuk Agrowisata.  Juga tidak kurang dari 30 judul tulisan ilmiah  telah dipublikasikan di dalam dan luar negeri.





Ir. Hery Bachrizal Tanjung, Msi.
(Dewan Pakar – Bidang Ekonomi & Pembangunan Pertanian)


Kandidat Doktor Pebangunan Pertanian ini menyelesaikan Program S2 Ekonomi Pertanian IPB pada tahun 1998.  Karir saat ini adalah sebagai Staf Pengajar  di UNAND, Padang. Seperti halnya Karya ilmiah yang telah dipublikasikannya, sejak tahun 1990 mengikuti sejumlah Seminar dan Simposium (memperoleh piagam penghargaan) di sekitar tema-tema : Pembangunan Ekonomi Pertanian dan Pedesaan, Pengembangan Sumberdaya Manusia, Pengembangan Masyarakat, Penyuluhan Pertanian/Pembangunan, Oganisasi Kemasyarakatan dan Kepemudaan, dan Pemikiran Islam. Di bidang organisasi  saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Umum Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI)





Ir. Abdullah Usman, M.Agr.SC.
(Dewan Pakar - Agribisnis)


Program S2 diselesaikan di The University of Adelaide dengan bidang keahlian Agribisnis (1997).  Sejak tahun 1988 menjadi Staf Pengajar di Faperta UNRAM,  dan hingga saat ini telah menduduki berbagai Jabatan Fungsional di Universitas tersebut.  Sebagai Pakar Agribisnis, dari sejumlah  Judul Penelitiannya sebagian besar mencakup subsector Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Peternakan  dan Perikanan dengan berbagai tinjauan dari sisi Sosial-Ekonomi, subsistem produksi, pengolahan dan pemasaran hasil.  Aktif mengikuti berbagai seminar dan pelatihan baik sebagai peserta maupun pemakalah di berbagai daerah, serta aktif berorganisasi antara lain di PERGIZI, ICMI, PERHEPI,  dan Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia.
 

Dr. Ir. Nurianna Thoha, MBA.
(Dewan Pakar – Sumberdaya Manusia)
Dr. Nurianna Thoha, MBA. memperoleh gelar MBA dari University of Oregon, USA, pada 1989. Sekembalinya dari USA, dia bergabung dengan beberapa perguruan tinggi sebagai dosen di program S2 dan S1, seperti: STIE Nusantara, STEKPI, Universitas Esa Unggul, Universitas Islam Jakarta dan Universitas Kusumanegara. Selain itu penulis juga pernah bekerja sebagai management trainer dan konsultan di lembaga-lembaga training, seperti: PT. Muladaya, PT. Natasindo Pratama Consulting dan BestORGZ Solusi.
Pada 2002, Nurianna mengikuti program doktor di Australia dan memperoleh gelar doktornya di bidang sumber daya manusia pada 2006. Selama kariernya sebagai dosen, dia aktif menulis pada jurnal-jurnal lokal dan internasional. Saat ini, dia adalah staf pengajar tetap pada Program
Pasca Sarjana dan S1 di SBM-ITB dan mengkoordinir program MBA di Sampoerna SBM-ITB.



PENGALAMAN PERUSAHAAN  DAN  PERSONIL  SOSEK INC :

1.       Konsultasi, Studi dan Penelitian  di Berbagai Daerah : 
  •         Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang,  Pengembangan Sentra Produksi, Pengembangan Agribisnis berbagai  komoditi Pangan, Hortikultura, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, Perikanan  dan Kelautan
  •         Pengembangan Potensi Sumberdaya Alam  
  •         Analisa sosial dan ekonomi sektor produksi, distribusi  dan pemasaran  berbagai komoditi pertanian 
  •         Pembuatan  Studi Kelayakan baik untuk Produksi, Pengolahan maupun Pemasaran Komoditi Pertanian
  •         Analisis terhadap  suatu kebijakan, pengaruhnya terhadap  pengembangan sosial ekonomi masyarakat. 
  •         Pengembangan Konsep Ekonomi Kerakyatan, Koperasi dan UKM 
  •         Studi mengenai Pangan dan Gizi Masyarakat 
  •         Pendampingan Petani  untuk berbagai komoditi Agribisnis dalam rangka efisiensi dan efektivitas produksi dan pemasaran 
  •         Konsultan Manajemen Bisnis, Manajemen Pendidikan dan Usaha lainnya

2.       Pengembangan SDM  di Berbagai Sektor dan Daerah : 
  •          Pelatihan Kewirausahaan, Hard and Soft Skill 
  •          Pelatihan Manajemen Bisnis  untuk Koperasi dan UKM 
  •              Pelatihan berbagai Bahasa Asing  
  •          Pengembangan Berbagai Kelompok  Masyarakat di Pedesaan maupun di Perkotaan

3.       Perdagangan 
  •               Perdagangan Lokal dan antar pulau  berbagai komoditi Agribisnis 
  •          Ekspor  komoditi hasil perkebunan, rempah-rempah  dan  buah-buahan 
  •          Perdagangan  sarana produksi pertanian  seperti benih, pupuk dan pestisida 
  •               Bursa komoditi, saham dan valuta asing 
  •               Retail aneka  komoditi buah-buahan, produk makanan dan  consumer goods 
  •          Multi Level Marketing berbagai produk dari dalam dan luar negeri

4.       Jasa Lainnya
Beberapa personal Sosek Inc juga  berpengalaman dalam penyediaan berbagai  macam jasa antara lain :  Transportasi, Travel, Logistik dan Distribusi, Percetakan, Bimbingan Belajar, asuransi, dan lainnya


Legalitas Perusahaan

Nama Perusahaan
PT. Sosek Indoagro Cemerlang (Sosek Inc) 

Alamat Kantor Pusat
Jl. KH. Ahmad Sobana (d/h Bangbarung) No. 17  Bantar Jati - Bogor
Telp/Fax  : (0251) 8357839

Akta Pendirian
No. 02, Tgl 10 mei 2008, oleh Andreas, SH., LL.M., (Notaris di Bogor)

SK Menteri Hukum dan HAM  RI
No. AHU-31289.AH.01.01 Tahun 2008, Tanggal  09 Juni 2008

S I U P
Nomor 617/415/PK/B/DIPERINDAGKOP

N P W P
Nomor 02.740.650.3-404.000

Tanda Daftar Perusahaan 
Nomor 10.04.1.74.01946


Surat Keterangan Domisili
Nomor 305.1/VI/BT/2008


Surat Izin Gangguan (HO)
Nomor 503/45-75/Bout Tahun 2008


Bank 
BCA dan BNI