Laman

Rabu, 29 Desember 2010

Iklim Masih Jadi Ancaman

Perubahan iklim yang ekstrem masih menjadi tantangan pertanian pada tahun 2011. Diperlukan antisipasi yang tepat agar produksi pangan tidak terganggu oleh faktor iklim. Menteri Pertanian Suswono mengakui pada tahun 2010 terlambat mengantisipasi faktor iklim.
”Tahun 2010 harus diakui kami terlambat mengantisipasi karena perubahan iklim ini tidak terduga,” ujar Menteri Pertanian saat menyampaikan ”Refleksi Tahun 2010 dan Prospek Pembangunan Pertanian Tahun 2011” di Jakarta, Rabu (29/12).
Ia menjelaskan, prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, April 2010 sudah masuk kemarau. ”Sehingga petani menanam hortikultura. Ternyata sampai Juli masih hujan, sekarang pun masih hujan. Ini membuat produksi hortikultura turun,” kata Suswono.
Oleh karena itu, kini sedari dini faktor iklim sudah diantisipasi. ”Ini kita lakukan antara lain dengan menyiapkan varietas yang cocok untuk setiap kondisi. Kita coba meminimalisasi kerugian di tingkat on farm,” ujar Mentan.
Selain itu, lanjut Mentan, riset diperkuat, begitu pula penyuluhan. Perluasan lahan, perbaikan infrastruktur, penyediaan pupuk, efisiensi tata niaga, dan lainnya.
”Bahkan, Panglima TNI sudah menyatakan, sewaktu-waktu TNI siap digerakkan membantu membasmi hama dan penyakit tanaman,” tutur Suswono.
Untuk mengantisipasi dampak iklim terhadap ketersediaan pangan nasional, menurut Suswono, tahun 2011 akan diterbitkan instruksi presiden (inpres) tentang pengamanan produksi beras dari dampak iklim. Inpres tentang pengadaan dan penyaluran gabah/beras oleh pemerintah dan inpres tentang kebijakan perberasan nonharga pembelian pemerintah.
Efisiensi
Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menyarankan agar fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi di pertanian. ”Dan tentu saja tujuan akhir dari semua itu adalah peningkatan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Menurut Bustanul, peningkatan produktivitas bersifat landai, dan pada titik tertentu tidak dapat digenjot lagi. Oleh karena itu, untuk mencapai target produksi, khususnya padi, yang harus didorong adalah efisiensi, terutama mengurangi kehilangan pascapanen. ”Kehilangan pascapanen saat ini relatif besar,” ujarnya.
Namun, hingga kini, lanjut Bustanul, belum ada terobosan baru untuk efisiensi, mengurangi kehilangan pascapanen padi. ”Yang ada hanya Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1986, itu sudah harus diperbarui. Menteri Pertanian bisa ambil peran dalam pengurangan kehilangan pascapanen ini,” tuturnya.
Bustanul mengingatkan, tahun 2011 sampai dengan Mei, hujan diperkirakan masih akan turun. ”Kalau panen basah, harga jual gabah petani akan turun. Sepanjang tidak ada terobosan untuk membantu petani mengatasinya, akan sulit bagi petani,” kata Bustanul Arifin.
Ia mengingatkan, pada tahun 2011 diprediksi harga komoditas akan melonjak. Selain waspada menjaga terpenuhinya kebutuhan pangan di dalam negeri, kenaikan harga komoditas juga bisa memberi keuntungan yang besar pada pertanian Indonesia.
”Subsektor pertanian bisa ambil windfall profit untuk meningkatkan kesejahteraan petani dari naiknya harga komoditas di dunia,” katanya.
Hal itu, lanjut Bustanul, dapat dilakukan dengan menggenjot produksi hortikultura dan komoditas perkebunan. Komoditas perkebunan yang punya peluang besar antara lain cokelat, kopi, dan teh.
”Cokelat kita bisa ambil peluang dari kondisi politik Pantai Gading, penghasil utama cokelat dunia, yang kini tidak kondusif, yang berpengaruh pada produksi cokelat mereka. Kita genjot produksi kita,” ujar Bustanul.
Terkait target Kementerian Pertanian meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, dari 41,4 juta pada 2010 menjadi 44,1 juta pada 2011, Bustanul menyatakan bahwa semakin maju negara tersebut, tenaga kerja di sektor pertanian semakin berkurang. ”Makin banyak yang terserap di industri,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal Kemtan Hari Priyono menegaskan, target penyerapan tenaga kerja itu bukan hanya dari sisi budidaya, tetapi juga dari industri hilir pertanian. ”Kebijakannya 2011 pembangunan industri hilir pertanian,” katanya.
Menurut Bustanul, hal itu menegaskan, Kemtan bekerja sendiri. ”Padahal, seharusnya bagaimana tenaga kerja semakin banyak diserap sektor lain agar beban di pertanian tak terlalu berat. Kemtan fokus di produksi dan efisiensi,” katanya. (ely)

Dikutip dari Kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar